Ketika keinginan untuk pindah kerja sudah tidak tertahankan lagi, Rinta
(27) mendapat tawaran lowongan pekerjaan tak terduga dari sebuah perusahaan HRD besar milik
kerabat ayahnya. Yang menggiurkan, jabatan yang disediakan untuk Rinta
adalah yang selama ini ia impi-impikan: creative director.
Di balik rasa gembira, terselip rasa cemas di benak Rinta. Bagaimana
iika nanti rekan-rekan barunya mengetahui jabatan tersebut didapatkannya
lewat ?jalur khusus?? Ia khawatir tudingan nepotisme akan ditujukan
kepadanya. Selain itu, apakah posisi kariernya akan tetap ?aman? bila
suatu saat ada perubahan susunan board of director (BOD) di perusahaan
tersebut?
LEBIH DIPERCAYA
Sejak reformasi bergulir, nepotisme di dunia kerja sedikit menurun
?popularitasnya?. Menurut Emilia Jacob, konsultan karier EXPERD, kini
banyak perusahaan makin menyadari, lebih baik menerima karyawan
berdasarkan kemampuan si kandidat.
Namun, tak bisa dipungkiri, masih ada sebagian perusahaan yang menjalani
prosedur ?kilat? perekrutan karyawan, alias menggunakan jalur nepotisme.
Kasus nepotisme dalam dunia kerja, tidak semata terjadi pada anak
pemilik perusahaan yang baru lulus dan langsung diterima duduk di
jajaran top manager. Tapi juga pada seseorang yang diterima bekerja
karena ?pengaruh? seseorang yang cukup ?terpandang? di perusahaan tersebut.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Keith Ferrazzi, CEO dari Ferrazzi
Greenlight, salah satu biro konsultasi karier di AS, faktor-faktor yang
memengaruhi seseorang bisa cepat melesat ke posisi bergengsi, jika
dihitung dalam persentase, adalah: 48% karena ada jalur koneksi, 26%
karena mengerjakan tugas dengan baik, 18% sebagai anak kesayangan
atasan, dan 6% disebabkan setia pada perusahaan.
KENALI ATMOSFER KERJA
Maka itu, sebelum ?terjebak? dalam dunia yang tampaknya menjanjikan ini,
disarankan Anda mencari tahu seluk-beluk perusahaan yang akan dimasuki.
Posisi Anda pun belum tentu terjamin, jika sebagian besar karyawannya
juga merupakan hasil nepotisme. Siapa tahu Anda diterima karena
merupakan anak dari temannya atasan, dan harus bersaing dengan karyawan
lain, yang ternyata keponakan atasan. Jika profesionalisme kurang
dihargai dalam kultur perusahaan tersebut, melainkan hanya masalah
kekerabatan yang dikedepankan, bisa-bisa merugikan Anda.
Oleh karena itu, sebagai langkah awal, Anda mungkin perlu bertanya
terlebih dahulu mengenai proses penerimaan pegawai di perusaan tersebut.
Selain itu, pelajari juga baik-baik seluruh peraturan perusahaan.
HARUS SIAP HADAPI GOSIP
Bagaimana cara Anda mendapat lowongan pekerjaan, sebaiknya tidakdiceritakan
kepada rekan-rekan kerja baru Anda. Karena, bukan tak menimbulkan
suasana tidak menyenangkan. Dan, bukan tidak mungkin akan menimbulkan
gosip bahwa Anda bekerja ?hanya? mengandalkan ?katabelece?. Lalu,
bagaimana jika gosip telanjur beredar? Kuncinya, bersikap profesional.
Anda harus menunjukkan performa kerja yang lebih baik dari rekan lain.
Performa kerja yang prima dan dibangun dengan upaya sendiri, akan
membungkam mulut-mulut usil yang mengusik kredibilitas Anda. Karena itu,
tunjukan kepada rekan kerja bahwa Anda diterima bekerja di perusahaan
tersebut, bukan sekadar faktor subjektivitas, melainkan karena dinilai
secara objektif atas performa kerja yang baik.
Selain itu, agar bisik-bisik cepat menghilang, sebaiknya jangan
mengeksklusifkan diri. Bersikaplah low profile, dengan menghargai
pendapat orang lain serta bersikap terbuka jika rekan Anda mengajak
diskusi dan bertukar pendapat.
Jadi, penting sekali untuk menyadari bahwa Anda tak boleh meminta
perlakuan khusus dari atasan. Selain itu, perlihatkan kepada atasan
bahwa Anda tidak mengandalkan hubungan baik demi kelancaran pekerjaan.
Jika Anda menunjukkan prestasi kerja yang baik, niscaya rekan-rekan
kerja pun akan maklum, bila Anda mendapat promosi. Karena, Anda memang
layak mendapatkannya.
Rabu, 10 September 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar